Awasi NE

Selain koksidiosis, Clostridium juga menjadi an – caman pascapencabutan AGP. Bakteri ini sebenarnya mikroflora normal di dalam sekum usus. Namun ayam yang mengalami stres tinggi dan tanpa AGP, usus bagian depannya gampang sekali luka. Ketika ada serum, bakteri bermigrasi ke dalam dan saat kurang oksigen bakteri berubah dari spora ke fase vegetatif. Bakteri dalam fase vegetatif ini menghasilkan toksin. Toksinnya bisa beredar ke seluruh tubuh. Biasanya pada kasus NE, yang paling parah usus bagian belakang. Toksin atau racun itu bisa berada dalam darah sehingga disebut enterotoksemia. Racun ini berbahaya karena dapat mengakibatkan organ hati dan usus hancur. Sialnya, penyakit berbahaya ini sulit dideteksi awal serangannya. Mula-mula kita melihat adanya papaya dropping (kotoran berwarna mirip pepaya). Papaya dropping ciri khas serangan NE pada tahap awal karena racun Clostridium menyebabkan pendarahan tertutup. Hal ini akibat merembesnya cairan darah keluar yang disebut diathesis.

Dan ketika kita amati permukaan ususnya bergelombang. Pada tahap ini kita tidak akan melihat berak berdarah. Namun kita sudah bisa melihat pakan yang tidak tercerna dalam kotoran ayam, mulai terjadi wet dropping, kotorannya pecah, dan beberapa kotoran seperti papaya dropping. Kondisi tersebut bagi peternak broiler sangat krusial. Ayam masih bisa diobati. Kalau penyakit sudah cukup berat, kotorannya merah keunguan kebiruan, lendirnya pun merah karena sel darah merah pecah (hemolisis). Ini yang membedakan NE dengan koksidiosis. Koksi tidak menghemolisis darah. Unsur besi (Fe) dalam darah tadi sudah bereaksi dengan sulfur dari asam amino sehingga membentuk warna hitam di permukaan usus. Pada tahap akut ini baru membentuk nekrosis. Bila sudah terlihat kotoran ungu kebiruan, peternak harus segera memberikan obat. Clostridium yang mengganggu usus dan merusak hati jelas memberikan dampak lebih hebat daripada koksi. Sebelum AGP dilarang, kasus Clostridiosis ditemukan pada broiler mulai umur 18 hari ke atas. Namun sekarang ini kasus tidak mengenal umur. Umur 8 hari pun bisa terlihat tergantung brooding management. Ketika masa brooding kondisi ventilasi kandangnya tidak bagus, ayam dalam kondisi anaerob sehingga bakteri mulai aktif menginfeksi anak ayam. Ini yang disebut silent infection.

Bedakan Koksi atau NE

Secara ringkas, ada tiga pendekatan deteksi dini. Pertama, lihat feses segar. Kedua, cek kloaka. Ketiga, kualitas bulu. Cek feses segar pada pukul 06.00-09.00. Periksa 3- 5 titik per-pen. Ada berapa feses per m2, berapa yang aneh atau mengandung darah. Kalau ada papaya dropping, berlendir, ada pakan yang tidak tercerna, itu dihitung kasus positif. Bila yang positif rata-rata tiap kandang 10% ke bawah, masih agak aman. Di atas 10%, keseragaman akan hancur dan FCR bengkak. Jika jumlah ayam banyak, cek kloaka lebih tepat hasilnya. Pada NE, kotoran yang berlendir me nye – babkan bulu kotor dan lengket. Kasus koksi ditan – dai bulu kotor tapi tidak lengket. Lalu, lakukan skoring kesehatan. Tiap pen ambil 20 ekor secara acak, minimum 3 pen dari satu kandang. Dikatakan positif gangguan pencernaan bila jumlah ayam yang bulunya kotor di atas 5%. Untuk memastikan kasus tersebut koksidiosis atau NE, ambil sampel dari pantat ayam kotor dan pantat yang bersih. Gunakan kekotoran kloaka untuk mengukur derajat keparahan kasus. Kalau sudah pasti penyebabnya, siapkan obat atau jual ayam.

CCRD alias Ngorok

Tanpa AGP, kotoran ayam selalu basah sehingga kandungan gas dalam kandang tinggi. Jenis gasnya bisa amonia atau gas lain dan H2S, sisa metabolisme protein. Kotoran yang basah juga meningkatkan kelembapan dan menciptakan kondisi anaerob. Kondisi ini makin memudahkan perkembangan mikroorganisme di kantung hawa, trakea, dan sinus hidung, yakni mikoplasma. Mikoplasma itu, khususnya M. gallisepticum, menyebabkan penyakit Complex Chronic Respiratory Disease (CCDR) alias ngorok. CCRD yang bandel dan sulit diobati dengan antibiotik ini menjadi ancaman ketiga pascapencabutan AGP. Karena itu kita harus deteksi sedini dan semaksimal mungkin. Bagaimana caranya? Lakukan deteksi gangguan pernapasan pada malam hari. Ketika tiba-tiba muncul gangguan pernapasan yang berat, seperti bunyi ngorok, hitung jumlahnya. Begitu lebih dari 10%, kita harus ambil langkah, ayam dijual atau diobati. Ketika diobati antibiotik tidak merespon dan yang lain tidak bisa dilakukan, tapi ayam belum siap jual, peternak perlu perhatikan ventilasi di dalam kandang. Dengan ventilasi yang baik, kita mengeliminasi kuman di dalam kandang dan mengurangi heat stress supaya ayam lebih nyaman.