Membidik Target 140 Ton / Ha – Peluang bisnis tebu dan gula masih menjanjikan. Buktinya, sudah ada tiga investor pabrik gula (PG) baru yang berani menggelontorkan dana tri – liun an rupiah. Ketiganya sudah berope ra – si. Padahal, menurut Ditjen Perkebunan, Ke men tan, pemerintah tengah mendo – rong berdirinya 10 PG baru. Para pemain baru ini membidik produk – tivitas tebu minimal 80 ton/ha. Bahkan Menteri BUMN Rini M. Soemarno pun sejak tahun lalu mendorong PG-PG pelat merah untuk berproduksi 100 ton/ha. Untuk mencapai produktivitas setinggi itu, bisa dimulai dengan memilih varietas unggul.

Salah satu sumber bibit unggul adalah Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI). Menurut Dr. Lilik Koesmi – hartono Putra, Direktur P3GI varietas-va – rie tas hasil rakitan para peneliti di instasi – nya berpotensi hasil rata-rata di atas 100 ton/ha dan rendemen hingga 12%. “Hanya saja realisasi di lapangan 80-90 ton. Masalahnya ketika tebang, muat, dan angkut serta proses olah banyak losses (ke – hilangan). Di Jawa terutama, potensi di ke – bun tinggi, tapi jarak kebun tebu de ngan PG jauh. Kalau dulu ada pewilayah an, misal PG di Kediri ya ambil tebu dari Kediri saja. Sekarang nggak ada lagi. Tebu Banyuwangi bisa digiling di Kediri. Tebu nya jalan-jalan, jadi banyak losses. Belum truknya ngantre dan efisiensi pabrik,” pa par nya di sela se – minar “Pupuk dan Meka nisasi di Perke – bunan” yang digelar PT Riset Perkebunan Nusantara di Jakarta, 4-5 April 2019. Padahal semakin lama tebu masuk ke pabrik, semakin menurun nilai rendemen – nya. Agar hasil gulanya optimum, tebu ha – rus memenuhi kriteria bersih, masak, dan segar. “Maksimal 2 x 24 jam sudah harus di olah,” imbuh Lilik yang sebelumnya menjabat Kepala Bidang Penelitian P3GI.

Produktivitas Gula Kita Rendah

Menarik data yang dipaparkan PTPN X dalam acara World Plantation Conference dua tahun silam tentang perbandingan produktivitas tebu, gula, dan rendemen di antara Indonesia, Brasil, Thailand, India, dan Australia. Produktivitas tebu per hek – tar kelima negara itu tidak berbeda jauh, antara 70-85 ton. Namun, angka rende – men Indonesia jauh sekali, hanya 7,22%- 8,0%. Sementara yang lain berkisar 9,5%- 14,7%. Angka tertinggi dicapai oleh Brasil (13%) dan Australia (14,7%). Pun hasil gulanya, Indonesia paling ren – dah, 5,45-6,0 ton/ha sehingga biaya pro duk – sinya paling mahal, US$750/ton. Se mentara Brasil dengan rendemen 12,3%-13% meng – hasilkan gula sebanyak 9,35-10,4 ton/ha. Tak mengherankan bila hi tung an biaya produk – sinya termurah, yaitu US$480/ton. India juga tak kalah menarik. Produktivi tas tebunya hanya 70 ton/ha, tetapi mampu mencapai rendemen 9,5%- 11,74% dan gula sebanyak 6,65-8,22 ton/ha. Ongkos produksinya cukup kompetitif, yakni US$500-US$593/ton.