Biostimulan Plus

Nah, untuk mendekatkan potensi gene – tik varietas dengan realisasi produktivitas di kebun, para peneliti dari Pusat Peneli tian Bioteknologi dan Bioindustri (PPBBI), Bogor, meramu biostimulan organik. “Pe ngertian biostimulan tanaman adalah ba han yang mengandung zat (senyawa/ mikroba/ for – mula) yang berfungsi men stimulasi proses alami peningkatan per tum buhan tanam – an,” ungkap Djoko San toso, salah satu pe – neliti yang tampil da lam seminar tersebut. Djoko mewakili enam ko le ganya, yaitu Priyono, DA Sari , Asmini Bu dia ni, S. Wah – yuni, SM Putra, dan A. Gunawan. Mereka menghasilkan biostimulan yang diberi nama Sucrosin. Biostimulan ini be – kerja dengan memperbaiki proses sintesis gula. “Reaksinya sih simpel. Glukosa di – tambah fruktosa menjadi sukrosa. Yang kita panen kan sukrosa, tapi dalam ta naman sukrosa akan terurai lagi menjadi glukosa dan fruktosa. Dari sisi enzim cu kup rumit karena harus di satu titik kita induce reaksi fruktosa dan glu – kosa men jadi su – kro sa. Setelah itu kita cegah supaya sukrosa itu tidak terurai lagi men – jadi glu kosa dan fruktosa,” jelas Pri – yono di kesem – patan lain.

Djoko menam – bahkan, dengan aplikasi Su crosin diameter batang dan tinggi batang tebu bertambah. “Aplikasi ini bisa menam – bah produktivitas gula hampir 30%. De – ngan Sucrosin plus memberikan hasil pa – ling baik. Biomassa tebunya 140,56 ton dan kandungan gula naik 94% men jadi 11,91 ton per hektar,” papar doktor alum – nus Iowa State University, Amerika Serikat. Dalam penelitian mereka, lanjut dia, ada dua perlakuan Sucrosin plus, yaitu plus asam humat dan lainnya plus asam humat dan mikoriza. Asam humat ini melapisi pu – puk urea yang dgunakan sehingga urea bersifat rilis bertahap (slow release). Sedangkan pemanfaatan mikoriza, me – nurut Happy Widiastuti, ahli mikoriza di instansi yang sama, untuk menambah per akaran, meningkatkan serapan fosfor, memperbaiki kinerja mikroba yang ada.

Di sekitar akar ada mikroba pengikat ni – tro gen, pelarut fosfat, dan pemacu per – tumbuhan tanaman. “Ini kombinasi, mi – koriza simbiotik dan nonsimbiotik. Kalau nonsimbiotik kan masuk akar bermasalah sehingga kita perantarai dengan endo mi – koriza yang sudah ada dalam perakaran,” terang alumnus Faperta UGM ini. Menurut Priyono yang juga Direktur PPBBI, Holding PT Perkebunan Nusantara III telah meminta tim peneliti Sukrosin un tuk meng – uji lapang temuan mereka da lam skala luas. Kini uji lapang tengah ber langsung di kebun PTPN II Sumatera Utara de ngan luasan 1.200 ha dan diperluas di PTPN VII, IX, XI, XII, XIV. Diharap kan, te muan teknologi ini akan juga diaplika sikan petani tebu rakyat sehingga In – do ne sia tak lagi bergantung pada gula men – tah impor karena mampu memenuhi kebutuhannya sendiri.