Cara Mengatasi Hama agar Tidak Mengganggu Hasil Panen

Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) memang tidak memprediksi bakal terjadi musim yang ekstrem tahun ini. Namun begitu, petani padi tetap perlu waspada karena perusahaan pestisida mulai mendapatkan permintaan pestisida, khususnya produk pengendali hama. Artinya, di lapangan populasi hama mulai minta perhatian. Joko Suwondo, Presdir PT Rabana Agro Resources menyatakan hal itu kepada AGRINA (21/1). Dalam evaluasinya tentang Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), Ketua Asosiasi CropCare Indonesia ini mengulas, sepanjang 2018 serangan OPT ter – hadap pertanaman padi relatif rendah. Ini juga tercermin dari penjualan pestisida para anggota asosiasinya yang rendah. Bambang Widjajanto, Business Development Director, yang mendampinginya menimpali, tantangan produksi padi saat ini tak hanya soal air. “Hama penyakit masih menjadi kendala utama, terutama penggerek dan wereng. Sekarang juga muncul penyakit yang dulu tidak jadi kendala, sekarang menjadi kendala seperti blas. Leptochloa, gulma daun sempit juga dulu tidak pernah menjadi isu, sekarang menonjol. Ini jadi PR (pekerjaan rumah, red.) bagi petani,” imbuh Bambang.

Untuk mengurangi kehilangan hasil panen, lanjut Bambang, petani bisa me – nempuh dua cara, yakni memperkuat pertahanan tanaman dan mengendalikan OPT. Memperkuat tanaman bisa dengan me – nambahkan unsur silika dalam nutrisi tanaman untuk memperkuat dinding sel sehingga tak mudah ditembus serangga dan cendawan. Sementara itu, menurut Iman Segara, fase per – tumbuhan tanaman padi terbagi menjadi dua, yaitu fase vegetatif dan generatif. Fase vegetatif merupakan awal pertumbuhan tanaman, mulai dari kecambah benih hingga primordia bunga atau terbentuknya malai. Fase generatif diawali dengan inisiasi bunga. Bakal malai akan muncul dan ber – kembang sampai proses pematangan bulir padi. Fase vegetatif menjadi faktor utama dalam men – dapatkan hasil akhir gabah yang diperoleh petani. Alasannya, lanjut Crop Manager FMC Agricultural Manufacturing itu, tanaman sangat rentan serang – an OPT pada fase ini. Jika penanganan pada tahap awal tersebut terjadi kesalahan, maka fase selanjut – nya tidak akan tertolong 100%. “Petani harus sadar bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati,” tandas Iman saat dijumpai di kantornya, Jumat (24/1).

Periksa dengan Teliti

Saat ini di lapangan, banyak pertanaman padi yang mencapai umur 40 harian, tanaman padi membentuk anakan. Saat umur tersebut, tanaman berpotensi diserang penyakit blas dan hama we – reng. Karena itu petani perlu memeriksa tanam – annya apakah pembentukan anakannya sudah maksimal atau belum. Pemeriksaan dilakukan tak hanya di bagian atas tanaman tetapi juga sampai ke batang. Di lapangan, menurut Iman, petani sering keliru dalam menanggulangi OPT karena mereka hanya memeriksa bagian atas tanaman tanpa melakukan pengecekan pada batang. “Kotor dapuran” yang ada di batang padi mereka anggap bukan tanda kehadiran hama, tetapi sekadar debu. Padahal, kotor dapuran dan cangkang kulit wereng adalah bagian dari serangga wereng batang cokelat (WBC). Sedangkan serangan penyakit bercak daun Cercospora dan blas tidak menentu polanya. Penyakit blas disebabkan cendawan (Pyricularia oryzae) muncul pada saat hujan yang terusmenerus. Blas menyerang daun dan leher. Pada tanaman fase vegetatif, cendawan tersebut menginfeksi bagian daun atau blas daun (leaf blast). Sedangkan pada fase generatif, selain menginfeksi daun juga leher malai atau blas leher (neck blast). Gejala pada daun terlihat bercak berwarna kelabu atau keputih-putihan dengan tepi berwarna cokelat. Gejala busuk pada ujung tangkai disebut busuk leher (neck rot). Tangkai malai yang busuk mudah patah sehingga menyebabkan malai hampa. “Kalau tidak ditangani dan dikendalikan dengan cepat akan muncul blas leher dekat anakan sehingga malai tidak terisi,” ungkapnya.