Convenience Store Diadopsi Alfamart

Convenience Store Diadopsi Alfamart – Setelah ditinggalkan 7-Eleven, konsep convenience store tak lantas mati di pasar ritel dalam negeri. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, misalnya, tetap menjalankan konsep ritel tersebut di sejumlah gerai. Menurut mereka, convenience store masih cocok di lokasi tertentu. Sekadar kilas balik, 7-Eleven yang dibawa oleh PT Modern Internasional Tbk sebagai terbawaralaba, adalah pionir convenience store di Indonesia.

Heboh sambutan pasar kemudian mendorong sejumlah pemain minimarket mengadopsi konsep serupa. Meskipun, mereka malu-malu mengakui hal tersebut. Kenyataannya, konsep convenience store besutan Sumber Alfaria justru masih bertahan. Perusahaan besar dengan kode saham AMRT di papan Bursa Efek Indonesia itu menyediakan aneka makanan siap saji sendiri. Sumber Alfaria tak asal pilih lokasi.

Untuk menghadirkan Alfamart berkonsep mirip convenience store, mereka memilih lokasi yang berdekatan dengan perkantoran atau stasiun kereta api. Pertimbangan lain adalah ukuran gerai. “Saya lupa persisinya berapa gerai, tetapi ada beberapa ratus gerai yang sudah mulai,” terang Ryan Alfons Kaloh, Direktur Marke- ting PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, saat ditemui awak media, Rabu (26/9).

Mengintip materi paparan publik per Mei 2018, Sumber Alfaria mengoperasikan sebanyak 13.503 gerai Alfamart. Perusahaan itu juga memiliki 37 gerai Lawson yang jelas-jelas mengusung konsep convenience store (lihat tabel). Meski potensi Alfamart berkonsep convenience store menjanjikan, Sumber Alfaria tak berencana menjadikannya fokus utama.

Perusahaan tersebut tetap setia mengutamakan konsep minimarket untuk Alfamart. Sumber Alfaria lebih memilih untuk memperkuat seluruh gerai Alfamart dari sisi digital. Maklum, selain melego sekitar 4.000 stock keeping unit (SKU) di lapak, mereka juga melayani lebih dari 1.700 produk secara online. Beberapa di antaranya seperti penjualan pulsa, token listrik PLN, aneka cicilan, pembayaran iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), asuransi serta tiket perjalanan. Sejak tahun 2015 silam, Sumber Alfaria juga mengembangkan Alfapop, Alfachart, Alfatrex, Alfagift dan Alfamind. Perusahaan tersebut melibatkan peran pemasok dan mitra bisnis lain.

Ekspansi Hingga Ke Filipina

Sambil mengoptimalkan gerai yang sudah beroperasi, Sumber Alfaria mengejar penambahan 800 gerai baru hingga akhir tahun ini. Ekspansi gerai mencuil anggaran dana belanja modal alias capital expenditure (capex) sebesar Rp 2,3 triliun. Selain di dalam negeri, Sumber Alfaria memacu bisnisnya di luar negeri. Kalau tak meleset, per Oktober 2018, jumlah gerai Alfamart di Filipina bakal menjadi 500. “Jadi akhir tahun jumlah gerai sudah di atas 500 gerai untuk di Filipina,” tutur Ryan.

Sebenarnya, sudah terbersit dalam benak Sumber Alfaria untuk merambah negara lain. Namun, mereka harus mempertimbangkan regulasi negara setempat. Selain itu, manajemen Sumber Alfaria juga lebih menyukai bermitra dengan perusahaan lokal. Lewat aneka strategi tadi, Sumber Alfaria masih yakin mampu memenuhi target pertumbuhan pendapatan 10% di tahun ini.

Pada tahun lalu, mereka mencetak pendapatan bersih Rp 61,46 triliun. Jadi target tahun ini setara dengan Rp 67,61 triliun. Sepanjang paruh pertama tahun ini, pendapatan bersih Sumber Alfaria tumbuh 7,5% year on year (yoy) menjadi Rp 32,81 triliun. Sementara laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tumbuh hampir tiga kali lipat menjadi Rp 218,08 miliar.